11 Agustus 2020 Program Salam Lentera Kebajikan Pembakti Anak Bangsa Bersama Muhamad Yusup

Program Salam Radio
Selasa, 11 Agustus 2020

Program Salam Lentera Kebajikan
Pembakti Anak Bangsa
Bersama Muhamad Yusup Kepala Divisi Sosial Dan Kebencanaan Sekolah Relawan
Host Agustian

Jam 20.00 – 21.00 WIB
LiveYoutube dan Facebook
Salam Radio Channel dan Salam Radio

Layanan Interaktif melalui Whatsapp : 0821-8088-4650

Radio salam LIVE di http://salamradio.com

Atau klik link d bawah ini
https://c2.siar.us/proxy/salamradio?mp=/stream

Unduh Aplikasi Salam Radio dari Google Play Store

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.salam.radio

11 Agustus 2020 Program Salam Satu Hati, Warga Bantu Warga Pelaku Usaha Bangkit bersama Edy Fajar Prasetyo

Program Salam Radio
Selasa, 11 Agustus 2020

Program Salam Satu Hati, Warga Bantu Warga
Pelaku Usaha Bangkit
bersama Edy Fajar Prasetyo Sociopreneur Indonesia

Jam 16.00 – 16.40 WIB
Live Youtube dan Facebook
Salam Radio Channel dan Salam Radio

Layanan Interaktif melalui Whatsapp : 0821-8088-4650

Radio salam LIVE di http://salamradio.com

Atau klik link d bawah ini
https://c2.siar.us/proxy/salamradio?mp=/stream

Unduh Aplikasi Salam Radio dari Google Play Store

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.salam.radio

11 Agustus 2020 Program Salam Indonesia Bisa Penyejuk Hati bersama Dr. H. Hamdan Zoelva, SH.MH

Program Salam Radio
Selasa, 11 Agustus 2020

Program Salam Indonesia Bisa
Penyejuk Hati
bersama Dr. H. Hamdan Zoelva, SH.MH
“Kajian Islam Dan Konstitusi”
Jam 06.00 – 06.30 WIB
LiveYoutube dan Facebook
Salam Radio Channel dan Salam Radio

Radio salam Live di
http://salamradio.com

link d bawah ini
https://c2.siar.us/proxy/salamradio?mp=/stream

Unduh Aplikasi Salam Radio dari Google Play Store

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.salam.radio

NAKED ULTRAVIOLET EYESHADOW PALETTE PURPLE POP

GET ON YOUR WAVELENGTH

Move over, millennial pink…purple’s the new hue. Naked Ultraviolet Eyeshadow Palette hadir dengan 12 warna netral bernuansa keunguan sehingga menambahkan warna yang kuat untuk setiap tampilan mata. Warna tegasnya yang khas sesuai dengan definisi yang diperjuangkan oleh UD. Kami merayakan hal yang tidak konvensional, menginspirasi yang patah semangat, dan membawa nostalgia tahun 90-an ke tingkat yang lebih tinggi — saatnya untuk tunjukan pesona ungu versi Anda.

PURPLE REIGN

Kombinasi metallics, mattes, dan shimmers dari Naked Ultraviolet sangat cocok untuk siapapun dalam segala kesempatan. Aplikasikan Mind Slip (the perfect matte peach) untuk membuat tampilan smokey eyes dengan perpaduan V.R. (a radiant raspberry with iridescent shimmer), atau aplikasikan Warning (a majorly pigmented magenta) pada seluruh kelopak mata..kami juga sangat terobsesi dengan campuran euphoric dan purple dust untuk tampilan mempesona diatas ekspetasi

POP IT LIKE IT’S HOT

Perpaduan tampilan terbaik anda tidak pernah bisa semudah ini tanpa adanya Naked Ultraviolet Eyeshadow Palette yang dilengkapi dengan brush dua sisi yang vegan dan cruelty-free.Naked ultraviolet bukan hanya sekedar merayakan sejarah urban decay dan con tanya kepada ungu ,but from peachy subtle shimmers to sultry deep plumps,It’s super versatile,yet so poppin

Naked Ultraviolet Eyeshadow palette (IDR 850.000) Tersedia di Sephora dan Sociolla..Sephora online 15 juli 2020..Sephora offline&sociolla 1 agustus 2020

Penerapan Protokol Kesehatan Jadi Perhatian Utama dalam Pelaksanaan Pilkada

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Wanita Syarikat Islam (PP WSI) Valina Singka Subekti mengatakan Pilkada Serentak 2020 berbeda dari pilkada-pilkada sebelumnya karena dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

Penerapan protokol kesehatan menjadi concern utama dalam pelaksanaan pilkada pada 9 Desember mendatang.

“Saat ini, kita memasuki tahapan pencalonan dalam Pilkada, disisi lain kita berada dalam situasi yang tidak mendukung, persebaran Covid-19 semakin meningkat sedangkan protokol kesehatan semakin longgar. Peran WSI adalah untuk mengedukasi masyarakat dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” ujar Valina, dalam webinar ‘Pilkada Serentak 2020 Di Tengah Pandemi Covid-19’, Sabtu (8/8/2020).

Dalam kesempatan itu, hadir sejumlah narasumber antara lain Komisioner KPU RI Viryan, anggota Bawaslu RI Ratna Dewi Pettalolo, Komisioner KPU Provinsi Sulawesi Selatan Misna M Attas, dan Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini.

Komisioner KPU RI Viryan mengamini bahwa penerapan protokol kesehatan dalam pelaksanaan pilkada serentak menjadi salah satu concern utama.

Selain itu, dalam tahapan pemilihan KPU juga telah mengatur jadwal kedatangan pemilih ke TPS demi menghindari kerumunan masa. Petugas penyelenggara pun dipilih berdasarkan usia, yakni di bawah 50 tahun untuk menjaga kesehatan mereka.

“Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya anggaran Pilkada sebanyak Rp4 triliun yang sebagian besar kegunaannya dialokasikan untuk membeli Alat Pelindung Diri (APD),” kata Viryan.

Sementara itu, anggota Bawaslu RI Ratna Dewi Pettalolo menyebutkan bahwa setidaknya terdapat empat titik rawan pelanggaran pilkada di masa pandemi Covid-19. Antara lain resiko kesehatan, penyalahgunaan dana bantuan sosial bagi calon incumbent, partisipasi politik masyarakat yang akan menurun di masa pandemi, serta praktik politik uang.

“Hingga saat ini kami (Bawaslu RI) memproses 792 kasus hukum, paling tinggi adalah kasus administrasi, kemudian proses verifikasi calon dan COKLIT,” terang Ratna.

Kondisi berbeda dialami oleh penyelenggara pemilu di Sulawesi Selatan. Komisioner KPU Provinsi Sulawesi Selatan Misna M Attas mengatakan masalah banjir menjadi situasi yang harus dihadapi selain Covid-19.

Akibatnya, kata Misna, banyak warga yang terpaksa harus mengungsi. Kondisi tersebut menyulitkan petugas penyelenggara untuk mencocokkan data dan memberikan kartu pemilih.

Kemudian, Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini juga menjelaskan dampak pandemi virus Covid-19 terhadap penyelenggaraan pemilu. Seperti menurunnya partisipasi masyarakat, keterbatasan akses bagi kelompok marginal, serta legitimasi dari hasil Pilkada karena rendahnya angka partisipasi dan kondisi darurat.

Titi juga mengatakan kualitas dan integritas pilkada di tengah pandemi akan sangat ditentukan oleh beberapa hal seperti kualitas regulasi, kapasitas penyelenggara, peserta dan pemilih yang terlibat, penegakan hukum dan kepatuhan pada protokol kesehatan.

“Sukses atau tidaknya pilkada dapat dilihat dari protokol kesehatan yang dijalankan, tidak hanya oleh penyelenggara tetapi juga oleh peserta dan pemilih,” kata Titi.

sumber: tribunnews.com

Tags:

Pilkada Di Masa Pandemik, WSI: Mengedepankan Integritas Dan Ketatkan Protokol Kesehatan

Webinar bertema “Pilkada Serentak 2020 Di Tengah Pandemik” yang digelar Wanita Syarikat Islam/Net

Gelaran pilkada serentak 2020 di tengah pandemik Covid-19 adalah tantangan tersendiri bagi penyelenggara pemilu untuk menyukseskan hajatan demokrasi daerah itu.

Perempuan Bisa Jadi Kunci Kemenangan Di Pilkada Surabaya 2020 Dugaan Ijazah Palsu Di Pilkada Halmahera Selatan Harus Diusut Tuntas Ketua Umum PP Wanita Syarikat Islam, Valina Singka Subekti mneyebutkan, bahwa penyelenggara pemilu diberikan dua tugas pokok pada gelaran pilkada yang dijadwalkan pada Desember mendatang. Dua tugas itu adalah bagaimana pilkada digelar dengan penuh integritas dan penerapan protokol Covid-19 dengan ketat. “Saat ini, kita memasuki tahapan pencalonan dalam pilkada, di sisi lain kita berada dalam situasi yang tidak mendukung, persebaran Covid-19 semakin meningkat sedangkan protokol kesehatan semakin longgar,” ujar Valina dalam webinar bertema “Pilkada Serentak 2020 Di Tengah Pandemik”, Minggu (8/8). Narasumber dalam webinar ini antara lain Komisioner KPU RI, Viryan Aziz; anggota Bawaslu RI, Ratna Dewi Pettalolo; anggota KPU Provinsi Sulawesi Selatan, Misna M. Attas dan Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraini. Komisioner KPU RI Viryan Aziz mengatakan, bahwa penerapan protokol kesehatan dalam pelaksanaan pilkada serentak menjadi salah satu fokus utama. Hal tersebut, kata dia, dapat dilihat dari meningkatnya anggaran pilkada sebanyak Rp 4 triliun yang sebagian besar kegunaannya dialokasikan untuk membeli alat perlindungan diri (APD). “Selain itu, dalam tahapan pemilihan, KPU juga telah mengatur jadwal kedatangan pemilih ke TPS, demi menghindari kerumunan masa,” katanya. “Petugas penyelenggara pun dipilih berdasarkan usia, yakni di bawah 50 tahun, demi menjaga kesehatan mereka,” imbuhnya. Sementara itu, anggota Bawaslu RI Ratna Dewi Pettalolo menyebutkan, bahwa setidaknya terdapat empat titik rawan pelanggaran Pilkada di masa pandemik Covid-19.

Pelanggaran itu meliputi resiko kesehatan, penyalahgunaan dana bantuan sosial bagi calon incumbent, partisipasi politik masyarakat yang akan menurun di masa pandemik serta praktik politik uang. “Hingga saat ini kami (Bawaslu RI)  memproses 792 kasus hukum, paling tinggi adalah kasus administrasi, kemudian proses verifikasi calon dan Coklit,” terang Ratna.

EDITOR: AHMAD KIFLAN WAKIK

sumber:rmol.id

Tags:

NAKED ULTRAVIOLET EYESHADOW PALETTE PURPLE POP

GET ON YOUR WAVELENGTH

Move over, millennial pink…purple’s the new hue. Naked Ultraviolet Eyeshadow Palette hadir dengan 12 warna netral bernuansa keunguan sehingga menambahkan warna yang kuat untuk setiap tampilan mata. Warna tegasnya yang khas sesuai dengan definisi yang diperjuangkan oleh UD. Kami merayakan hal yang tidak konvensional, menginspirasi yang patah semangat, dan membawa nostalgia tahun 90-an ke tingkat yang lebih tinggi — saatnya untuk tunjukan pesona ungu versi Anda.

PURPLE REIGN

Kombinasi metallics, mattes, dan shimmers dari Naked Ultraviolet sangat cocok untuk siapapun dalam segala kesempatan. Aplikasikan Mind Slip (the perfect matte peach) untuk membuat tampilan smokey eyes dengan perpaduan V.R. (a radiant raspberry with iridescent shimmer), atau aplikasikan Warning (a majorly pigmented magenta) pada seluruh kelopak mata..kami juga sangat terobsesi dengan campuran euphoric dan purple dust untuk tampilan mempesona diatas ekspetasi

POP IT LIKE IT’S HOT

Perpaduan tampilan terbaik anda tidak pernah bisa semudah ini tanpa adanya Naked Ultraviolet Eyeshadow Palette yang dilengkapi dengan brush dua sisi yang vegan dan cruelty-free.Naked ultraviolet bukan hanya sekedar merayakan sejarah urban decay dan con tanya kepada ungu ,but from peachy subtle shimmers to sultry deep plumps,It’s super versatile,yet so poppin

Naked Ultraviolet Eyeshadow palette (IDR 850.000) Tersedia di Sephora dan Sociolla..Sephora online 15 juli 2020..Sephora offline&sociolla 1 agustus 2020

Ketua Umum Betawi Bangkit Tolak SK Gubernur No 803

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua umum Betawi Bangkit Prof. H. David Darmawan saat Menghadiri Acara Launching T’Shirt Campaigne “Indonesia ,The World Park” pada Rabu 5/8/2020 di Kantor Pusat RICOH Jl. Iskandar Muda No 29 Jakarta Selatan atas undangan Forum Deklarator Taman Wisata Dunia (FD-TWD)

Ketua umum Betawi Bangkit Prof. H.David Darmawan mengatakan bahwa, dirinya sangat merasa terhormat telah diundang di acara Lauching tersebut.

Dalam wawancaranya bersama awak media beliau mengucapkan Terimakasih kepada Yayasan Taman Wisata Dunia dan Forum Deklarator Taman Wisata Dunia (FD-TWD) yang telah menggagas acara ini dengan tujuan ingin mengkapanyekan pariwisata yang ada di Indonesia agar lebih di kenal oleh DUNIA.

”Bayangkan para kepala daerah saja sangat menghargai kita sebagai suku Betawi, mereka yang hadir ada bupati dan walikota daerah seperti dari Tapanuli utara , Maluku, kepulauan sula dan Belitung , mereka sangat menghargai kita,” ucap David

Ketua umum Betawi Bangkit Prof. H. David Darmawan.
Ketua umum Betawi Bangkit Prof. H. David Darmawan. (TRIBUNNEWS.COM/TRIBUNNEWS.COM/IST/FX/ISMANTO)

Di sela acara Launching tersebut, David Darmawan memberikan pernyataan sikapnya terkait di terbitkannya SK Gubernur No.803 tentang Pembentukan Anggota Dewan Kesenian Jakarta yang tidak mewakili unsur betawi sama sekali.

“Kami memprotes dengan keras kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang ngakunya pengen bantu betawi, ada sih tapi banyakan kaganya, salah satunya terkait SK Gubernur no 803 tentang pembentukan anggota dewan kesenian Jakarta periode 2020 -2023 ,” terangnya di Gedung Ricoh, Jakarta Selatan.

Kemudian Ketum Betawi Bangkit juga mengatakan secara tegas.

“Kami Menolak susunan dewan kesenian tersebut , karena tidak dilibatkannya orang betawi di dalamnya yang saya tau hanya ada satu orang yang dari betawi namanya Bang Kojeg nama aslinya Amrullah yang lain gak tau nih beneran betawi atau engga, jadi kami masyarakat suku betawi tulen praktisi budaya pengen tanya sama gubernur hal hal seperti ini kenapa di biarkan?!,” katanya dengan penuh semangat.

”Kami kaum Betawi memprotes keras kalau hal hal seperti ini kaum betawi tidak dilibat dari segi kebudayaannya apa lagi yang lainnya ini mau sampai kapan ,” ucapnya.

Dan lanjut David, “Kami ormas Betawi Bangkit yang mandiri mampu berdiri sendiri kami tidak berpolitik dan tidak mau dipolitisasi kami murni curahan hati, protes untuk membangun Betawi agar lebih maju, ” tutup Ketua umum Betawi Bangkit Prof. H. David Darmawan.

ABDOEL MOEIS “BENTENG” SAREKAT ISLAM

Oleh : Tavinur S. Ramadhani

Tatkala kita mengingat sosok pahlawan, apakah pernah ada terlintas di benak kita tentang seorang Abdoel Moeis? Jauh melewati masa, kita mengenal Moeis sebagai seorang Sastrawan Kaliber; bahkan Ia dikenal juga sebagai seorang Top Demonstran yang melegenda. Mungkin, sesekali dalam paruh waktu tertentu, ada baiknya kita mengangkatnya sebagai bahan renungan, bahwa di negeri ini pernah hadir seorang yang demikian keras kepala dengan pendiriannya, dan yang ngotot dengan ide-ide progresifnya. Dan, semua itu dilakukannya dengan argumen dan nalar sehat, jelas dan terarah.

Kendati demikian, mengupas Moeis, bukan berarti kita terlena oleh melodrama sejarah atas epik perjuangannya, yang hanya dituangkan sekedarnya dalam kolom buku-buku sejarah mutakhir dewasa ini. Hakekatnya, membahas Moeis merupakan bagian dari sedikit upaya meruntut sejarah untuk, paling tidak menggugah nilai heroik kita dalam mengoreksi langkah-langkah kita mengemas dan menata negeri ini lebih bermartabat.

Moeis, dalam posisi kepahlawanannya, bagi kebanyakan generasi kekinian, seperti telah terkooptasi jaman. Ia merana dan terselip dalam tumpukan catatan sejarah terbawah negeri ini. Moeis sebagai seorang pahlawan, menjadi ibarat “fosil sejarah” yang terlupakan oleh derasnya kegandrungan terhadap budaya pop dan instrumen ngak-ngik-ngok dewasa ini. Nampaknya, Moeis sebagai pejuang, sosoknya telah terdegradasi oleh pahlawan produk rekaan media sejenis pahlawan DC Comics atau Marvel Studio yang diangkat ke dalam layar lebar.

Kendati fenomena ini bukan gejala parsial, faktanya tokoh pahlawan dalam gambaran dewasa ini, tidak lain adalah para Avanger. Mereka pahlawan-pahlawan yang terlahir oleh derasnya industrialisasi dan pemujaan terhadap teknologi dan informasi. Kita berharap, semoga gejala ini hanya merupakan fenomena sesaat.

Moeis dan Sjarikat Islam (SI) adalah satu kesatuan makna utuh. Ia tidak hanya telah memberi “karakter tegas” di tubuh SI sehingga disegani, juga dihujat, namun ia pun telah mewarnai catatan panjang sejarah kesinambungan bangsa ini. Kekaguman terhadapnya, boleh lah cukup dituliskan sebagai opini tentang orang-orang hebat terdahulu negeri ini. Moeis sebagai penggerak jaman dan SI mesinnya. Faktanya demikian.

Lantas, mampukah kesadaran kolektif kita meneropong perjuangannya? Lalu, memaknainya, tetapi bukan hanya sebagai bahan kajian keilmuan semata atau perbincangan di ruang-ruang akademis. Sederhananya, mengenangnya, bolehlah terbayarkan dengan mengingatnya lewat aubade lagu “telah gugur pahlawanku” yang dilantunkan dengan khidmat dan seksama saat prosesi peringatan Hari Pahlawan. Selanjutnya, dalam bahasa klise, sebuah harapan ditautkan, semoga spirit mereka mampu menggugah kesadaran terdalam kita untuk lebih bijak memerlakukan negeri ini.

Pembicaraan ihwal Moeis bukan soal pengkultusan sosok. Ini menyangkut kerinduan terdalam kita akan sosok panutan. Kita sangat rindu. Betapa rindunya. Rindu seorang “koordinator” ber-klas negarawan, yang mampu mengordinasikan olah pikir dan tindakan ke arah yang lebih kongkrit. Rindu lahirnya negarawan yang mampu mengontrol ‘kekuasaan’ menjadi ritme kebersamaan di semua sektor dan potensi sumber daya bangsa ini.

Kenyataannya, sampai saat ini, kita tetap disibukkan oleh kegaduhan mencari koordinator tersebut. Kisruh di semua lini (eksekutif, legislatif dan yudikatif), kita menyadari, bahwa kita keteteran. Jika demikian, akankah pada waktunya kita tergugah, merenungi kembali, mengadopsi spirit mereka yang dipredikati pahlawan, sejatinya pahlawan, dan diantara mereka terselip sosok Abdoel Moeis? Lalu, fosil sejarah itu pun akan tereduksi menjadi bahasa kebersamaan tentang Indonesia ‘yang apa adanya’. Indonesia yang sepenuhnya, yang berwibawa dan bermartabat.

Karena itu, mustahil memisah tautan sejarah ihwal eksis SI dengan peran Abdoel Moeis. Sebagai “fosil sejarah”, di era gaduh ini, upaya mengankat SI maupun Moeis, ibarat “menegakkan batang padi terendam.” Peran sejarah SI, Moeis dan para aktivisnya, mungkin hanya terlegendakan dalam catatan singkat pelajaran sejarah. Ia melegenda, namun belum sepenuhnya tergali sebagai fakta jujur dalam lakon peran perjalanan sejarah bangsa ini. Alhasil, upaya mengangkat kembali SI sebagai organisasi modern di era milenial ini, bukan sekedar persoalan sentimen formal keorganisasian atau keagamaan. Lebih dari itu, ia diharapkan menjadi motor penggerak yang mampu mengorganisir seluruh unsur solidaritas persaudaraan bangsa ini. Alhasil, pada gilirannya akan bermuara kepada terbangunnya kembali gagasan tentang ‘Indonesia yang sebenarnya’. Indonesia yang lebih baik.

Melalui spirit dan kedalaman kepekaan mereka: HOS. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Hamka, Soekarno, Kartosoewirjo, termasuk Abdoel Moeis dan sederet nama aktivis lain; SI diharapkan mampu berkelit dari arus tersungkurnya moralitas yang menghinggapi sebagian penyelenggara negara ini. Seperti kata Hamka “kalau hanya sekedar hidup, kera di hutan pun hidup.” Dan, SI tidak sekedar hidup. Kendati perlahan, SI pasti akan tetap hidup. Mungkin, tak harus berteriak, namun nyaring terdengar; tak harus berlari cepat, namun segera mencapai tujuan; tak harus kelihatan jumawa, namun dikagumi dan dicintai; dan seperti ditegaskan HOS. Tjokroaminoto lebih satu abad silam: “kita bukanlah seperempat bagian dari bangsa ini.” Dan kali ini, melalui catatan ringkas ini, kita akan memetik ‘sedikit’ hikmah dari “cerita epik” ihwal Abdoel Moeis.

Mencoba memahami Abdoel Moeis, seperti berguru ke masa silam. Lalu, kita berharap menarik faedah dari sikap kegigihan dan keuletannya. Hidup Moeis adalah pergulatan seorang demonstran. Bergerak dari satu moment ke moment lainnya, laksana seorang petualang. Keberpihakannya dalam menyuarakan kaum bumiputera tertindas, menjadi “bahasa pergerakannya”. Tutur bahasa penyampaiannya pun padat dan tegas. Ini tercermin dari karakter penokohan tokoh di setiap roman-roman yang ditulisnya.

Nyaris setiap penggambaran sosok seseorang dan dinamika yang berkembang sekitarnya, dilukiskan Moeis dalam frasa kata yang pas tanpa berbelit-belit. Begitu pula dalam orasi-orasinya, Moeis mampu mengangkat emosi massa untuk tergerak mengikuti saran dan instruksinya. Kecakapan dan nalar yang runtut dalam sosok Moeis ini, sulit ditemukan dalam sosok pemimpin saat ini.

Pendiriannya tetap bergeming, kendati harus berhadapan dengan moncong popor senjata pasukan Belanda. Pelbagai peristiwa pembangkangan di Bandung, Garut, Padang, Morotai, Yogyakarta, Perkebunan Deli, dan letupan-letupan lain di Nusantara pada saat itu, tidak sedikit yang diinisiasi Moeis. Boleh dikata, karena pergerakannya itu Moeis menjadi langganan pemanggilan atau penangkapan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Pengenalan Moeis terhadap Sjarikat Islam (SI), diawali melalui cerita H. Agus Salim, yang telah terlebih dahulu bergabung dengan SI atas undangan Tjokroaminoto. H. Agus Salim, selain masih memiliki tali temali famili dengan Moeis, dimana dalam pergulatan selanjutnya di tubuh SI, mereka menjadi partner seiring membesarkan SI. Bahkan, Moeis juga dikatakan masih memiliki hubungan keluarga dengan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Rahimahullah (1860-1916), yang pernah menjadi Mufti Imam Masjidil Haram, Mekkah. Syaikh Ahmad Khatib juga menjabat Kepala Sekolah Mazhab Imam Syafi’i di Mesjidil Haram Mekkah. Tak sedikit, di paruh awal abad ke-20 ulama dan kaum reformis Islam yang bertanya dan belajar kepada beliau, termasuk KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, serta sejumlah ulama Nusantara lainnya (Deliar Noer, 1980 : 122).

Sebenarnya kehadiran Moeis di SI merupakan permintaan langsung Tjokroaminoto. Moeis dinilai memiliki pendidikan dan pengalaman luas, disertai sifat dan sikap pandangan radikal terhadap ketidakadilan dan segala macam hal ihwal penderitaan orang-orang Indonesia. Sifat dan sikap inilah yang menurut Tjokroaminoto diperlukan pada masa itu untuk membina gerakan SI. Di Tahun 1912, Tjokroaminoto mengirim dua orang utusan ke Bandung untuk menemui beberapa orang, termasuk Wignyadisastra, Moeis dan Suwardi Surjaningrat (kemudian dikenal dengan Ki Hajar Dewantara), untuk memperkuat Sjarikat Islam. Ketiga orang ini, selanjutnya secara berurutan menjadi ketua, wakil ketua dan sekretaris SI di Bandung (Deliar Noer, 1980 : 123).

Tidak hanya itu, tulisan atau opininya di pelbagai koran saat itu, dinilai sangat berdampak luas terhadap kebangkitan penduduk bumiputera. Selain memuat gelora perlawanan terhadap penindasan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pemerintah Belanda, tulisan Moeis pun menggugah terhadap diberlakukannya pengenaan lebih luas hak-hak bumiputera dalam mengelola asset di daerahnya. Moeis menolak perlakuan tak senonoh terhadap hak-hak pekerja di perusahaan-perusahaan kolonial, seperti di perusahaan perkebunan, jawatan kereta api, jawatan listrik, perusahaan perbankan, pegadaian atau perusahaan yang berafiliasi dengan negara asing lain. Keberpihakan Moeis terlihat tatkala Ia memutuskan hengkang dari tempat kerjanya, Departemen Pengajaran dan Keagamaan (Department van Onderwijs & Eredienst), karena kerapnya Ia melihat kasus pungutan liar yang dilakukan lurah dan kaum priyayi rendahan terhadap orang-orang desa (Deliar Noer, 1995:122-123).

Tak hanya Mohammad Hatta (Wakil Presiden Pertama RI) yang mengagumi Abdoel Moeis. Dalam sebuah tulisannya, Moeis pun dipuji Tan Malaka, seorang aktivis komunis internasional. Tan Malaka menyebut Moeis sebagai inti dari penduduk bumiputera. Karena itu, Ia menempatkan Moeis sebagai seorang tokoh terkemuka yang berjuang untuk memberi kesadaran kaum pribumi; dia pun asal Minangkabau (Poeze, 1988: 63). Kendati kerap bertemu dan berdikusi dengan Tan Malaka, namun ketidakcocokan pandangan dan perbedaan jalur ideologi yang mereka anut, Islam dan Komunisme, tidak lantas mengurangi kekerabatan diantara mereka. Moeis dimata Tan Malaka dipandang sebagai seorang yang memiliki pendirian teguh. Hal ini nampak dari penolakan keras Central Sjarikat Islam (CSI) yang diprakarsai Moeis, terhadap ide dan propaganda PKI dalam menempuh jalur perjuangan menghadapi kebijakan Belanda. Lebih spesifik lagi, kegigihan sikap Moeis yang tegas, terlihat lewat perannya dalam pemurnian Sjarikat Islam dari penyimpangan pemahaman orang-orang “muslim kiri”, yang merupakan embrio Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tags:

10 Agustus 2020 Program Salam Lentera Kebajikan Tilik Bang Sem bersama Sem Haesy Narasumber : Yahya Andi Saputra

Program Salam Radio
Senin, 10 Agustus 2020

Program Salam Lentera Kebajikan
Tilik Bang Sem
bersama Sem Haesy
Narasumber : Yahya Andi Saputra Ketua LITBANG Lembaga Kebudayaan Betawi
Jam 20.00 – 21.00 WIB

Budaya Betawi Pilar Budaya Indonesia

LiveYoutube dan Facebook
Salam Radio Channel dan Salam Radio

Layanan Interaktif melalui Whatsapp : 0821-8088-4650

Radio salam LIVE di http://salamradio.com

Atau klik link d bawah ini
https://c2.siar.us/proxy/salamradio?mp=/stream

Unduh Aplikasi Salam Radio dari Google Play Store

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.salam.radio